GNI Tisna flyer 3

Potret Diri Sebagai Kaum Munafik

HIGHLIGHT on Art & Painting Exhibition: Pameran Tunggal Tisna Sanjaya dibuka oleh DR Hilmar Farid / Direktur Jenderal Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Lawangwangi Creative Space – Art Sociates bekerjasama dengan Galeri Nasional Indonesia. Keberagamaan seperti itu akan melahirkan “momen-momen kebaikan” yang secara gnostis diam-diam ingin dipancarkan oleh Tisna melalui karya-karyanya. Tisna Sanjaya dilahirkan di Bandung 28 Januari 1958.

Pameran ini merayakan 60 tahun Tisna Sanjaya. Pusat perhatian Tisna pada pameran ini adalah praktik-praktik keberagamaan yang disaksikannya akhir-akhir ini. Karya-karyanya yang terbaru berupa seri etsa merepresentasikan kekhusukan Tisna atas ungkapan “Nama-Nama Allah Yang Indah” (Asmaul Husna) yang berjumlah 99.

GNI Tisna flyer 2
Dalam terminologi Islam, kaum Munafik (al-Munafiqun) adalah sebutan bagi orang-orang yang menyembunyikan kekafirannya dengan menyatakan keimanan. Iman menjadi sekadar retorika, tapi kata-kata itu justru diingkari di dalam hati. Seseorang hanya berpura-pura melakukan sesuatu, justru ketika tindakan itu tidak sesuai dengan suara hatinya yang lebih dalam. Itulah persengkokolan diam-diam antara surga dan kuasa-politik.

GNI Tisna 1Setelah menamatkan pendidikan di Studio Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB), ia memperdalam seni etsa di Hochschule für Bildende Künste Braunschweig (HBK-Braunschweig College of Fine Arts;1987-1988) atas beasiswa dari Goethe-Institut.

Pada 1991-1994 dan 1997-1998 ia memperoleh beasiswa lagi dari DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst, Program Pertukaran Akademis Jerman) untuk memperdalam studi etsanya di Jerman.

Pada akhir masa studinya, dia berhasil memperoleh gelar Meisterschüler dengan bimbingan Prof. Karl Christ Schulz. Di studio kerjanya di Braunschweig, sebuah kota tua di bagian utara Jerman – kota kembar Bandung sejak 1960, ia menemukan “Gua Hira”nya.

“Gua Hira” adalah renungan personalnya atas seni etsa. Melalui kecintaannya pada seni etsa Tisna menemukan pencerahan untuk memaknai kehidupan. Bagi Tisna, torehan-torehan ujung jarum baja pada permukaan pelat logam yang terpapar asphalt hitam adalah upaya untuk memperoleh cahaya terang di dalam dunia kita yang gelap. Hanya melalui cara itu ia menyongsong gambar, yakni tersingkapnya kegelapan oleh cahaya karena jejak-jejak guratan tajam. Bekerja dengan teknik etsa dirasakan Tisna semacam proses ritual yang memberi “petunjuk dan nur”. Landasan pencerahan “gnostis” inilah yang kelak akan selalu digunakan Tisna untuk menjelajahi pelbagai kemungkinan wahana bagi praktik seni kontemporernya.

GNI Tisna Sujud-2018-Sugar Aquatint 2Dalam perkembangan karya-karyanya di kemudian hari, Tisna tak pernah meninggalkan antagonisme gelap-terang ini. Kalangan seni rupa telah mengenalnya sebagai seniman-aktivis yang dengan sadar melibatkan seninya dengan pelbagai isu dan tema sosial politik. Di tahun 1980-1990-an, Tisna melancarkan kritik-kritik alegorisnya melalui sejumlah seri etsanya yang terkenal mengenai teater kehidupan di masa Orde Baru. Beberapa kali karya etsanya menempuh risiko dengan memparodikan seorang “Raja” yang lengser dari kursi kekuasaan (lengser keprabon mandeg pandhito).

Sesudah kritik-kritik alegorisnya, karyanya memunculkan dua pokok utama: pertanyaan tentang peran seni dan munculnya tema-tema di ranah agama. Di masa-masa ini Tisna mempertanyakan kebenaran seni dan retorika seniman. Kadang-kadang ia seakan mau menunjukkan bahwa seni adalah sesuatu yang tidak ada artinya. Entah sebagai kritik diri atau dengan wawasan mengenai seni pada umumnya, Tisna menggambarkan seni dengan teks “nothing” karena pada kepala seniman telah tumbuh benalu, tanpa ide-ide yang bermakna.

GNI Tisna - Sujud ( Dari  99 Nama Yang Maha Indah ) #31-2018 2Objek dan citra perahu – metafora untuk perlindungan, rumah dan bumi— misalnya mulai muncul pada awal 2000-an. Jejak-jejak kakinya berulang-ulang hadir pada karya etsa-aquatinnya dan cetakan-cetakan tubuhnya ditandai sebagai “Tubuh 5 Waktu”. Latar budaya Sunda dan citra Islam-kultural adalah suasana batin Tisna yang tetap. Ia mengatakan, seninya adalah luapan doa, takbir dan peragaan akan keragaman kreasi budaya. Dialog antara keyakinan agama dan kreatifitas serta kebebasan di dalam seni adalah intensi yang selalu tersirat muncul pada karya-karyanya, terutama belakangan ini.

Bagi Tisna, beragama dan menjalani praktik seni adalah sama-sama menyenangkan. Agama baginya akan menjadi lebih humanis ketika seni hadir di dalamnya. Keberagamaan yang dihadirkan oleh Tisna adalah keberagamaan yang merayakan kekayaan, pluralitas dan rahmat kehidupan. Dengan kata lain, kehidupan agama baginya tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan agama kehidupan.

Pameran Tunggal Tisna Sanjaya
Galeri Nasional Indonesia, Gedung A
9-21 Juli 2018

Dikurasi oleh
Rizki A. Zaelani
Hendro Wiyanto

I-Now