GNas Painting of The Year 2018 Anissa Dermawan Kunaefi_Camouflage _Flackterns_2

Painting of the Year 2018

HIGHLIGHT on Art of the Year 2018: Bulan September hingga Oktober 2018, secara konsisten, UOB Painting of the Year 2018 telah menjadi magnet besar bagi mereka yang ingin meniti karir sebagai seniman secara serius. Tidak ada tema spesifik yang dijadikan sebagai patokan untuk karya-karya yang masuk.

UOB Painting of the Year 2018 selalu dapat menjaring karya-karya yang menarik dalam setiap penyelenggaraannya. Kriteria ‘seni lukis yang dirujuk juga sangat terbuka, sehingga mempermudah siapapun yang ingin mengikuti kompetisi ini. Karya lukis foto profile diatas oleh Anissa Dermawan Kunaefi berjudul Camouflage Flackterns.

Dalam kompetisi lanjutan di tingkat regional Asia Tenggara, pemenang UOB Painting of the Year 2018 (Indonesia) meraih gelar pemenang utama 2018 UOB Southeast Asian Painting of the Year, menyisihkan karya-karya seniman pemenang dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Meskipun demikian, adalah suatu catatan penting bagaimana hasil seleksi karya para finalis untuk tahun ini sesungguhnya tidak pernah benar-benar menggambarkan tingkat keragaman ekspresi yang ekstrim. Karya lukis dibawah oleh Suvi Wahyudianto.

GNas Painting of The Year 2018 EST_Suvi-Wahyudianto 2
Sistem panggilan terbuka; seleksi kompetisi yang berjenjang (nasional ke regional);besaran hadiah yang menggiurkan; adalah beberapa hal lain yang menyebabkan jumlah peserta kompetisi ini membludak setiap tahunnya.

Sudah sejak awal penyelenggaraannya, UOB Painting of the Year 2018 tidak GNas Painting of The Year 2018 Lenny Ratnasari Weichert_Yang Ibu Ajarkan 2menggunakan pengertian ‘seni lukis’ yang klasik (yang notebene identik dengan cat dan kanvas). Seperti yang terlihat dalam hasil seleksi tahun ini (dan tahun-tahun sebelumnya) karya-karya dengan tinta, cat air dan pensil pada kertas juga mendapatkan tempat sebagai ‘lukisan’. Karya lukis disebelah kiri oleh Lenny Ratnasari Weichert yang berjudul: Yang Ibu Ajarkan.

Dewan Juri
Terdiri dari Entang Wiharso, Bambang Bujono, dan Dr. Wiyu Wahono telah menyaring sekitar seribu karya pelamar dari berbagai penjuru Indonesia menjadi lima puluh finalis, lalu memilih delapan karya yang mendapatkan penghargaan terbaik dalam kategori seniman ‘profesional’ (established) dan ‘pendatang baru’ (emerging).

Seleksi karya para finalis Indonesia untuk tahun ini boleh jadi memberi gambaran bagaimana praktik seni lukis di Indonesia dikuasai oleh suatu paradigma artistik yang telah mengakar kuat sejak kelahiran seni rupa modern. Penggambaran figur manusia masih menonjol. Idiom representasional sangat dominan. Aspek narasi sangat terasa di sana-sini. Namun berbeda dengan periode ketika Realisme menjadi satu-satunya prinsip dalam melukis, hari-hari ini spektrum bahasa representasional para seniman Indonesia menunjukkan keluasan dan keragaman. Seniman-seniman hari-hari ini cenderung dengan mudahnya menyerap pengaruh dan tanda-tanda berbagai bahasa visual dari mulai wayang, komik, iklan, fotografi hingga halaman-halaman internet, dan mengembangkannya ke dalam ekspresi pengucapan yang mengelak dari berbagai kategorisasi estetik yang klasik.

GNas Painting of The Year 2018 6a
GNas Painting of The Year 2018 8a
Namun di atas itu semua, karya-karya dalam pameran ini secara umum memperlihatkan adanya dorongan kuat para senimannya untuk ‘bercerita’.

Dalam sebagian besar dokumen tertulis yang disertakan dalam formulir kompetisi, cukup mudah ditemukan pernyataan-pernyataan seniman yang menjadikan karya-karyanya sebagai manifestasi, atau sekurang-kurangnya motif, bagi kisah-kisah personal maupun komunal, ingatan-ingatan tentang peristiwa, atau tafsir atas situasi alam semesta dan manusia.

Di sini kita menemui karya-karya seniman sebagai penutur dan kecenderungan bertutur atau bercerita mencerminkan sifat-sifat manusia yang paling manusiawi, suatu Natura Hominis.

GNas Painting of The Year 2018 10a
GNas Painting of The Year 2018 9a
Lokakarya Kolaborasi Melukis oleh Popok Triwahyudi
Finalis UOB POY 2018 Popok Triwahyudi (lahir 1973), pada hari Jumat, 16 November 2018 akan mengampu lokakarya untuk para seniman-seniman muda yang tertarik untuk mengeksporasi metode-metode kolaboratif maupun tema untuk menciptakan karya bersama. Popok adalah pendiri dan anggota kelompok seniman asal Yogyakarta Apotik Komik (1997-2006) yang pernah aktif mengerjakan proyek-proyek di ruang publik, termasuk mural urban, sebagai suatu aksi penyadaran. Karya-karya Popok banyak berbasis pada bahasa rupa figuratif, dengan narasi-narasi yang ia ciptakan sendiri untuk menyimbolkan situasi sosial di sekitarnya. Semenjak 1990-an, Popok telah melangsungkan beberapa pameran tunggal antara lain, Bergerak, di Annexe Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia (2009) dan There Are No New Messages To Day, di Esplanade, Singapore (2008), selain berpartisipasi di berbagai pameran kelompok di dalam dan luar negeri, antara lain: Cannot be Bo(A)rdered, Paris Urban Art Fair 2017, Espace Commines Paris, Perancis (2017) dan Concept Context Contestation, Bangkok Art and Cultural Centre, Bangkok, Thailand (2013).

Maya Hasan
GNas Painting of The Year 2018 Maya Hasan 2UOB Painting of the Year 2018 menjadi lebih istimewa dengan iringan musik oleh pemain harpa Indonesia. Maya yang sejak SMP belajar melanjutkan sekolah ke Willamette University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, mengambil jurusan Harp Performance.

Wanita berdarah Cina, Kalimantan, Madura, dan Jawa ini kerap diundang tampil bersama dengan beberapa orkestra musik klasik seperti Nusantara Chamber Orchestra, Twilite Orchestra, Malaysia Philharmonic Orchestra, Surabaya Symphony Orchestra, Erwin Gutawa Orchestra.

I-Now