GNI Publikasi FBB Ambang Batas 1

Festival Bebas Batas 2018

HIGHLIGHT on Art & Exhibition: Hingga saat ini, karya-karya seni disabilitas masih jauh dari apresiasi yang jujur. Karya mereka sering dianggap bagus karena iba pada keterbatasan penciptanya- beserta proses penciptaannya.

Bertolak dari situasi semacam itu, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Festival Bebas Batas 2018 pada 12-29 Oktober 2018 di Galeri Nasional Indonesia.

Undang-Undang No. 8/2016
Apresiasi yang lazim muncul kerap tidak berdasar indikator artistik layaknya apresiasi kepada karya-karya seni nondisabilitas. Di saat yang sama, irisan antara seni dan disabilitas banyak juga berkutat di arena bernama seni untuk terapi.

GNI-Jatiari (2a) Pokok di Ambang Batas
Undang-Undang No. 8/2016 terhadap Penyandang Disabilitas menjamin persamaan hak antara orang dengan disabilitas dan yang tidak. Undang-undang ini menyebut disabilitas adalah orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama dan menjadi sumber hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan maupun berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lain berdasar kesamaan hak. Karya diatas oleh Ari Irawan “Kepala Orang Utan dan Kucing” dalam Pameran “Pokok di Ambang Batas” di Galeri Nasional Indonesia dalam rangka Festival Bebas Batas.

Tentu benar bila para penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam interaksi sosialnya. Namun, keterbatasan itu menjadi tidak selalu tepat di ranah ekspresi seni para penyandang disabilitas. Keterbatasan mereka justru bisa melampaui batas-batas bernama konvensi dalam seni itu sendiri. Mereka tak peduli dengan komposisi, tak memusingkan proporsi, dan tak memiliki beban untuk menyampaikan makna-makna canggih di balik sebuah karya. Mereka juga tak pening dengan bayangan apakah karyanya akan dapat disambut apresiatornya atau tidak.

GNI-Jatiari (5a) Pokok di Ambang Batas
GNI-Jatiari (6a) Pokok di Ambang Batas
GNI-Jatiari (8a) Pokok di Ambang Batas

Rangkaian Kegiatan dalam Festival Bebas Batas 2018

1. Pameran Pendukung “Aneka Rupa Lima RSJ”
Pameran di ruang publik ini menyajikan karya-karya pilihan yang didapat dari observasi dan workshop melukis bersama di sejumlah rumah sakit jiwa di lima kota: Jakarta, Solo, Lawang, Denpasar, dan Lampung. Pameran ini bagian dari praacara sekaligus sosialisasi menuju Festival Bebas Batas 2018 yang diselenggarakan di sekitar Asian Games, dan Paralympics Games.
Pameran: 30 Agustus 2018 – 4 Oktober 2018
Lokasi: Terminal 3 Soekarno-Hatta dan Halte Busway Harmoni

2. Pameran Utama “Pokok di Ambang Batas”
Pameran ini menampilkan karya-karya dari 35 peserta hasil dari seleksi ‘open call’, juga berbagai karya dari sepuluh peserta undangan, baik dari dalam maupun luar negeri: karya-karya koleksi Borderless Art Museum No-Ma Jepang, hasil workshop dari Kedutaan Spanyol di Indonesia, proyek seni yang didukung Institut Francais d’Indonesie, proyek seni yang didukung British Council, plus karya-karya terseleksi dari lima Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Indonesia. Karya-karya yang ditampilkan sebagian besar meliputi karya dua dimensi, dari lukisan, fotografi, gambar (drawing), media campur (mixed media), hingga karya audio visual dan interaktif. Kesemua karya menghadirkan bentuk dan teknik yang beragam, dari bentuk konvensional hingga kontemporer.

3. Lokakarya Melukis Bersama
Hari dan waktu: Sabtu, 13 Oktober 2018, Pukul 09.00-15.00 WIB
Tempat: Ruang Serbaguna Galeri Nasional Indonesia
Peserta: Para peserta pameran hasil open call
Pendamping: Hanafi , Jun Kitazawa, Hana Madness, Timotius Suwarsito

4. Diskusi “Seni dan Disabilitas/Difabilitas
Hari dan tempat: Senin, 15 Oktober 2018 , Pukul 10.00 – 12.00 WIB
Tempat: Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia

Narasumber:
1. Sudjud Dartanto (Kurator Pameran)
2. Jean Couteau (Budayawan)
3. Rachmat Koesnadi (Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas)
4. Barbara Lisicki (British Council)
5. Kengo Kitaoka (President of International Exchange Program, Executive Committee for Disabled people’s Culture and Arts of Japan)
Moderator: Adi Wicaksono
Peserta: Umum, Akademisi, Asosiasi Profesi (Dokter Kejiwaan, Psikolog, Arsitektur, Sosiolog, Antropolog

Tampak karya-karya dibawah ini oleh para seniman disabilitas dari Borderless Art Museum NO–MA.
GNI-Jatiari (1a) Pokok di Ambang Batas

Wacana Normalitas
Pameran Seni Rupa karya ‘seniman disabel/difabel ’ ini adalah acara pertama kali, dan diselenggarakan khusus oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta didukung oleh Galeri Nasional Indonesia, Art Brut Indonesia, Kementerian Sosial Republik Indonesia, British Council Indonesia, Agency for Cultural Affairs, Government of Japan – International Exchange Program Executive Committee for Disabled people’s Culture & Arts for Japan, PT Angkasa Pura II, dan PT Transportasi Jakarta. Keterangan gambar dibawah dari kiri: Pustanto (Kepala Galeri Nasional Indonesia), Restu Gunawan (Direktur Kesenian), dan Sudjud Dartanto (Kurator Pameran “Pokok di Ambang Batas”) mengapresiasi karya Edo Adityo “Seribu Malaikat”.

GNI-Jatiari (4a) Pokok di Ambang Batas
GNI-Jatiari (3a) Pokok di Ambang Batas
Perspektif kurasi ini berangkat dari keyakinan bahwa ekspresi mereka adalah vital dalam praktik bermasyarakat dan berekspresi, karena itu kurasi ini bertema “Pokok di Ambang Batas” (Vital in Margin) yang mengisyaratkan ada yang vital dalam ruang ambang batas.

Karya-karya yang ditampilkan sebagian besar meliputi karya dua dimensi, dari lukisan, fotografi, gambar (drawing), media campur (mixed media), hingga karya audio visual dan interaktif. Kesemua karya menghadirkan bentuk dan teknik yang beragam, dari bentuk konvensional hingga kontemporer. Ide karya mereka membentang dari pengalaman pribadi, bahkan kritik dan penghayatan mereka atas kondisi sosial/budaya. Dengan mengabaikan berbagai hasil diagnosis dari otoritas medis masing-masing mereka, secara umum dapat dikatakan bahwa ekspresi mereka lugas, spontan, dan kuat. Pada titik inilah kita sampai pada sebuah pertanyaaan diambang batas: apakah masih penting dan perlukah mereka menyandang predikat/cap/status/identitas sebagai kaum disabilitas/difabilitas ketika berada dalam ranah seni?

Keterangan gambar dibawah dari kiri: Pustanto (Kepala Galeri Nasional Indonesia), Hendromasto Prasetyo dan Sudjud Dartanto (Kurator Pameran “Pokok di Ambang Batas”), Restu Gunawan (Direktur Kesenian), dan Adam Pushkin (Director of Arts, British Council) mengapresiasi karya-karya para seniman disabilitas.

GNI-Jatiari (9a) Pokok di Ambang Batas
GNI Publikasi FBB Ambang Batas 2
Kehadiran jenis pameran ini di Galeri Seni Indonesia dapat diartikan sebagai ‘manifesto’ , dan dapat membuka diskusi yang menarik tentang penamaan (labelling) ‘disabilitas/difabilitas’ dalam produksi/praktik penciptaan karya seni rupa.

I-Now