Lenny Ratnasari Weichert 2

Pilgrimage

HIGHLIGHT on Art & Exhibition: Pilgrimage persembahan Kersan Art Studio dan Galeri Nasional Indonesia adalah pameran solo perupa Lenny Ratnasari Weichert yang mengeksplorasi karya seni instalasi dengan tema menyoal identitas perempuan, spiritualitas maupun kesadaran akan teritori, serta wacana Islam dalam konteks budaya.

Makna dari Pilgrimage disini bukan sebagai ritus mengunjungi tempat-tempat suci, namun sebagai ungkapan ekspresi tentang diri. Perupa kelahiran 1970, yang telah malang–melintang di berbagai aktivitas seni rupa internasional seperti di Jerman, Singapura, Inggris, Belanda, dan Hungaria ini menyatakan “Pilgrimage sesungguhnya pengalamanku melihat ke dalam diri sendiri”.

Lenny menegaskan bahwa Pilgrimage telah meluas artinya sebagai semacam bentuk empati pada nasib perempuan lain. “Saya berharap pameran solo saya juga memicu perbincangan sejarah kelam yang dialami para perempuan di Indonesia pada masa lalu,” ujarnya.

Lenny Ratnasari Weichert 3

Lenny memilih satu Kurator, Bambang Asrini Widjanarko dan satu Ko-kurator, Agung Frigidanto untuk membedah tiga karya utama, yang kemudian menjadi tiga zona penting pameran ini, yakni: satu, To Be or Not To Be, kristalisasi pengalaman-pengalaman dan identifikasi memori  masa lalu yang beragam, seperti kegundahan sebagai seorang perupa perempuan dan perannya sebagai manusia yang menjaga reproduksi generasi.

Yang ke-2, Dinners Club, yakni perjamuan makan malam yang unik dan sangat spesial dari tokoh sejarah dan dunia mitologi. Sebuah zona yang kompleks dan bertumpuk-tumpuk pemahaman juga tafsir. Meja yang membentuk gender female, video dokumentasi dan piring-piring yang tersemat lambang-lambang dari 9 perempuan: Malahayati, Colliq Pujie, Bunda Teresa, Siti Khadijah, Helena Blavatsky, Aung San Suu Kyi, Dewi Sri, Venus, serta Dewi Kwan Im.

Lenny Ratnasari 2

Yang ke-3, Homage to Anonymous  adalah narasi tentang Islam, namun tidak mengulik soal scriptural kitab suci. Karyanya lebih pada sejarah dan budaya Islam di Tanah Air. Sosok Fatimah Binti Maimun diandaikan sebagai hulu para Wali, yakni Wali Songo. Yang mengkritisi konsep dominasi patriarki di masyarakat dan dalam waktu sama sebuah empati pada perempuan-perempuan yang dihilangkan dalam sejarah.

Sementara itu, Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, dalam teks di katalog pengantar pameran menyatakan bahwa terselenggaranya pameran solo Lenny Ratnasari Weichert yang pertama kali di Galeri Nasional Indonesia patut diapresiasi. “Sebelumnya ia telah beberapa kali berpameran secara bersama di sini, seperti Pameran Crossing Signs (2011) dan Wall of Fiction (2012) dan hal tersebut menjadi kesempatan yang berharga bagi  eksistensi Lenny Ratnasari Weichert di medan seni rupa Indonesia,” ujar Andre.

Pameran: 21 September – 1 Oktober 2016
Pukul 10.00 – 18.00 WIB
Gedung B Galeri Nasional Indonesia

I-Now