GNI-Jatiari (7) Abstrak Baron Basuning 2

Noor: Baron Basuning

HIGHLIGHT on Art & Exhibition: Baron Basuning Studio bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Pameran Tunggal Seni Rupa Abstrak Baron Basuning bertajuk “NOOR”.

Pameran istimewa ini diselenggarakan karena selain untuk menyajikan karya-karya abstrak yang menandai perjalanan kesenian Baron Basuning dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun, juga sebagai media untuk menunjukkan geliat serta eksistensi seni rupa abstrak Indonesia.

GNI-Jatiari (3)a
Pameran ini menyajikan 38 karya yang sebagian besar terinspirasi dari cahaya, yang dalam pameran ini mengambil istilah NOOR. Karya diatas berjudul Perjamuan Senja, 400x240cm acrylic on canvas 2018. Selama menekuni seni lukis khususnya abstrak dalam waktu yang cukup lama, juga telah berpameran bersama dan menggelar sejumlah pameran tunggal, tentu Baron memiliki banyak kisah dan pengalaman menarik dalam proses berkarya.

Baron merupakan sosok yang bereksplorasi tanpa batas. Ia telah mengunjungi banyak tempat di berbagai negara hingga ke Kutub Utara dan Selatan. Ditambah profesinya sebagai aktivis dan jurnalis sebelum memilih menjadi seniman secara total, hal tersebut membuat Baron berbeda dari seniman lainnya. Sosok dan latar belakang Baron ini tak hanya menjadi bumbu, namun justru menguatkan ‘rasa’ dalam setiap karyanya.

GNI-Jatiari (14)a
GNI-Jatiari (6)a
GNI-Jatiari (2)a
Tentang NOOR, Light atau Cahaya
Berbeda dengan kepercayaan agama lain, dalam kepercayaan Islam, “Sang Ilahi” dinyatakan sebagai sesuatu yang Nir-Rupa, abstrak atau pun tanpa figur, namun dapat diartikan sebagai puncak dari segala cahaya. Terinspirasi dari pemahaman tersebut dan juga mengambil ide dari bangunan-bangunan peninggalan kebudayaan Islam Taj Mahal, Al Hambra, dengan liku-liku sejarahnya, Baron Basuning memilih tema “NOOR” pada pameran yang menandai 20 tahun ia berkarya.

Pameran “NOOR” ini terinspirasi dari Nasrid Palace, Alhambra. Kubah peninggalan peradaban Islam abad ke-14 di Granada, Spanyol, itu menggemakan sinar yang masuk menerobos menembusi jendela-jendela kecil di sekelilingnya. Berkas-berkas cahaya pun bersaling silang: menjalin pantulan di antara rongga-rongga “muqarnas”, di antara ceruk-ceruk “kubah stalagtit”. Maka struktur geometri di langit-langit pun menghablur. Garis-garis batas yang terlampau keras jadi meretas, dan selanjutnya lumer serta sirna oleh cahaya. Tinggal “noor” permata.

GNI-Jatiari (1)a
Pameran ini dibuka oleh Erros Djarot (foto diatas) dimana Baron Basuning dengan latar belakang aktivis dan jurnalis di komunitas Erros Djarot, memantapkan diri menjadi seniman sejak 20 tahun lalu. Baron yang masa mudanya mendapat kesempatan berkelana ke berbagai belahan dunia, tanpa disadari kerap menghasilkan karya yang merupakan perpaduan antara pengalaman batin dan ingatan kuat pada tempat yang pernah ia kunjungi. Kecintaan kuat akan tanah airnya dan leluhur juga mempengaruhi Baron dalam berkarya dan memilih tema berpameran.

GNI-Jatiari (5)a
GNI-Jatiari (4)a
GNI-Jatiari (15)a
Tentang Baron Basuning
Lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan, 16 September 1961, Baron Basuning saat ini tinggal di Depok. Tamatan SMA di Purworejo, Jawa Tengah ini pernah kuliah di STP/IISIP Jakarta (1981–1984). Sebelum menekuni seni rupa, pada pertengahan era 90–an Baron pernah bergabung sebagai aktivis dan jurnalis dalam Komunitas Erros Djarot. Pasca-98 ia terjun ke dunia seni rupa lantaran terinspirasi dari hamparan salju putih Kutub Selatan—yang pernah ia singgahi pada pertengahan ’80-an yang tak berujung bak sebuah kanvas besar. Setelah itu Baron aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama, di dalam dan luar negeri.

Baron kini telah menekuni duni seni rupa selama 20 tahun. Ia telah menggelar 12 pameran tunggal, dan beberapa pameran bersama. Pada 2012, ia diundang Agora Gallery, New York untuk memamerkan karya-karyanya di galeri tersebut.

GNI-Jatiari (11)a
GNI-Jatiari (13)a
Baginya, tak ada batas yang menghalangi khayal terutama saat menghadapi benda figur atau sosok yang belum ter-definisikan. Figur atau bentuk yang dilukis di kanvas bukanlah bagian dari yang ditemukan di dunia nyata. Inilah yang diupayakan seorang Baron Basuning dalam setiap karyanya.

Pameran
9 Januari – 8 Februari 2019 | Pk. 10.00 – 19.00
Gedung A Galeri Nasional Indonesia
Dibuka oleh Erros Djarot
Kurator: Eddy Soetriyono

PROGRAM PUBLIK
Seminar Kebudayaan

“Memaknai Seni untuk Kebangsaan”
Jumat, 11 Januari 2019 | Pk. 14.00
Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia
Pembicara: Erros Djarot | Yudi Latif Ph.D. | Eddy Soetriyono

Artis Talk
Minggu, 13 Januari 2019 | Pk. 14.00
Gedung A Galeri Nasional Indonesia
Eddy Soetriyono | Hendro Wiyanto

Exhibition Tour
bagi Pelajar & Mahasiswa setiap akhir pecan
Gedung A Galeri Nasional Indonesia

I-Now