GaleriNasional40a

Travel in Cloth, Partonun Ulos | Merdi Sihombing

Kekayaan budaya Indonesia melalui pameran kain tradisional yang kini menjadi kebanggaan Tanah Air, seperti tenun dan songket! Hal itu terungkap lewat sebuah karya atas nama leluhur “Travel in Cloth, Partonun Ulos” digelar di Galeri Nasional Jakarta, mulai 19 Juli hingga 16 Agustus 2013.

Pameran ini menunjukkan ke-anekaragam-an budaya Batak lewat Ulos, seni patung Batak Sigale-gale, ukiran, parsanggul na-ganjang (sanggul nan tinggi), dan hal lain yang kehadirannya hampir punah dan sudah sulit ditemukan.

Merupakan Episode pertama dari karya Merdi Shihombing – sebagai putra Batak yang berkolaborasi dengan berbagai seniman, menampilkan revitalisasi 40 kain ulos dengan ciri khas masing-masing, filosofi dan nilai tradisi yang terjaga dengan pewarnaan alam alami. Merdi memisahkan kain tekstil untuk fashion dan tekstil modern printing dengan tetap menyerap konsep asli Gorga Batak melalui modifikasi motif-motif tua dan tradisional.

Benda-benda kuno yang kini dianggap mengandung pemujaan terhadap berhala oleh sebagian masyarakat Batak harus dimusnahkan, sebenarnya tidak perlu. Karena ini merupakan bagian seni budaya warisan leluhur nenek moyang yang perlu dijaga kelestariannya, agar karya-karya unik tersebut dapat mengangkat komunitas industri kreatif di Indonesia, menurut pendapat Merdi. Dan pameran ini diharapkan dapat membawa Indonesia ke kancah yang lebih luas lagi.

Filosofi Ulos bagi masyarakat Batak
Bagi masyarakat Batak, Ulos memiliki filosofi kasih sayang!  Filosofi Ulos dipahami sebagai ungkapan kasih sayang bagi kerabat marga terdekat atau sesama Batak. Nenek moyang suku BATAK dahulu sangat menginginkan kehangatan pada masyarakat Batak.

Ulos karya Merdi amat diperhitungkan dan dilirik oleh dunia fashion dikarenakan oleh kaya akan kreativitas. Produk ini yang perlu dipertahankan dengan sistem ramah lingkungan agar alam terjaga dengan eko produknya. Merdi terpacu melakukan sebuah riset. Kerja dengan para komunitas tenun Indonesia semacam ini patut didukung terus oleh pemerintah” tutur Merdi.

Zaman dahulu, ulos hanyalah sehelai kain tenun untuk pakaian sehari-hari masyarakat Batak kuno. Dipakai untuk melindungi badan dari kedinginan. Arti ”ulos” yang sebenarnya ditimba dari pengalaman seorang ibu dan anak yang berjuang melawan hawa dingin pegunungan alam Batak yang terkenal memang amatlah dingin.

Asal-usul kata “Ulos”
Menurut cerita dahulu kala di pegunungan Pusuk Buhit, seorang ibu mencari akal untuk mengatasi dingin putrinya. Sehingga digunakanlah bahan dari kulit kayu yang kemudian diselimutkannya ke anak tersebut. Segera si anak mengucapkan “las-lass-los loss.” Singkat cerita, sejak itu penutup badan disebut sebagai Ulos.

Ulos yang pada mulanya adalah pakaian sehari-hari, bergeser seiring waktu, bahan baku tidak hanya kulit pohon, namun berkembang ke daun-daun serta tumbuhan alam sekitar.

Warna ulos didasari oleh merah, putih, dan hitam. Merah melambangkan untuk dongantubu. Putih ditujukan untuk boru. Hitam ditujukan untuk hula-hula. Partonun yang selaku pembuat ulos disejajarkan berasal dari dewata, Ompu Mula Jadi Nabolon yang merajut kehidupan umat manusia dimuka bumi.

Dan secara perlahan ulos Batak berubah fungsi. Motif juga berubah dengan hadirnya para zending dan penjajah bangsa Eropah yang membawa kain tenun yang baru, yaitu pakaian Eropa. Pada akhirnya masyarakat Batak lebih banyak menggunakan kain tenun Eropa dan tidak lagi mengenakan ulos sebagai pakaian sehari-hari. Ulos yang awalnya pakaian sehari-hari berubah menjadi sebuah pakaian ritual.

Memberikan ulos disebut mangulosi. “Mangulosi” adalah acara yang tak terpisahkan dari ritual adat Batak. Dilakukan pihak yang berada pada posisi hula-hula ke boru, orangtua ke anak. Artinya, mangulosi menjadi simbol pamoholi dan manggomgom yang berarti memberikan peneguhan atau kekuatan pada pihak yang dikasihi. Pemberi ulos selalu berada di atas yang menerima.

Ulos memaknai “ugari ni habatahon,” atau semangat kebatakan, dan berkaitan dengan patik (titah), dan uhum (hukum). Ornamen yang muncul di ulos mencerminkan latar-belakang proses pembuatan ulos itu sendiri.

Kesakralan Ulos terasa perlahan-lahan lenyap termakan oleh pengaruh zaman modern! Ulos yang merupakan simbol penting dalam ritual budaya Batak, yang juga adalah simbol kebanggaan, prestise bagi masyarakat Batak. Tradisi “mangulosi” menjadi tidak bermakna tanpa Ulos yang merupakan bagian dari kesakralan kegiatan masyarakat Batak.

Berangkat dari kesadaran agar Ulos dapat memenuhi selera masyarakat masa kini tanpa meninggalkan filosofi asal-nya, adalah yang meng-inspirasi Merdi mengolah ulos dengan teknik yang sama namun dengan sentuhan pewarna alam baru, yang didatangkan khusus dari berbagai daerah lain di Indonesia dan bahan baku benang yang lebih halus, yaitu sutera. Kelenturan kain Ulos pun menjadi luar biasa!

Ditangan Merdi Sihombing, yang adalah alumni Seni Rupa jurusan Kriya Tekstil (Institute Kesenian Jakarta – IKJ), kini Ulos pun dikagumi oleh suku non-batak hingga ke warga manca negara. Merdi terbukti mampu menggunakan pendekatan baru untuk mengenalkan ulos (July13/p5).

Related article: http://indonesia-now.com/entertainment/happening-gallery-of-indonesia-now-various-2013/

– computer literate
– fluent in English both oral and written
– communication skill
– complaint handling & problem solving skill
– insurance knowledge (preferable)Please send your brief resume to:
editor@indonesia-now.com not later than 31 July 2011