GNas 2

100 Tahun Otto Djaya

HIGHLIGHT on Art & Exhibition: Otto Djaya (1916 – 2002) adalah salah satu master dalam sejarah senirupa Indonesia. Ia pernah menjadi pejuang kemerdekaan di masa kolonial. Bersama saudaranya Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada tahun 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

Otto Djaya hidup dan melukis selama enam dekade sejarah dan periode politik di Indonesia, semenjak masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia ke-2, masa revolusi, masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Otto adalah seorang bohemian, seniman non-konformis, yang mendefinisikan refleksi dan estetika pribadinya sendiri. Ia melukis dengan kecenderungan visual yang berbeda yang dapat dikenali untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa. Ia sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri, dan mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran.

Lukisan-lukisan Otto Djaya pun menjelaskan berlangsungnya semacam tegangan kekuatan yang saling menarik antara nilai kenangan dan konteks persoalan sosial-budaya yang bersifat lokal dengan pencarian artistik yang khas untuk mencapai nilai universalitas seni yang bersifat pribadi. Ia menunjukkan berbagai kejadian sehari-hari yang umum dikenal masyarakat di Indonesia (khususnya di pulau Jawa), seperti tema-tema tentang pasar, warung, para pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukkan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, kereta kuda, dll. Tentu saja, alam dan lingkungan hidup Otto Djaya di daerah Banten (di pulau Jawa bagian Barat) telah menghidupkan subject matter (pokok penggambaran) tersebut yang bersifat kultural ketimbang tema renungan yang menyuruk pada persoalan-persoalan yang bersifat personal.

Selain itu, jenis intensitas warna-warna dari lukisan Otto Djaya melampaui zamannya, hal ini bisa terlihat dari warna hijau dedauan yang khas dan biru langit yang cemerlang. Banyak lukisan Otto yang menjadi khusus juga karena ia mencampurkan atau memasukan tokoh-tokoh wayang dari keluarga Punakawan (khususnya, Petruk dan Gareng) dalam situasi hidup keseharian tersebut.

GNas 3

Kisah yang dikutip dari dunia pewayangan dan mitologi tradisi juga menjadi salah satu gagasan sentral yang dikerjakan oleh Otto. Memang tidak sedikit seniman Indonesia yang mengangkat tema pewayangan sebagai gagasan berkarya, namun Otto Djaya memunculkannya secara khas, tampil nyaris ‘begitu saja’, spontan, serta alamiah, seakan-akan kita memang hidup dalam bentangan kisah pewayangan. Selain itu ia juga banyak menampilkan tarian sosial dalam tradisi Indonesia dalam lukisan-lukisannya, seperti Ronggeng, Reog Ponorogo, Cap Go Meh, Kecak, juga penggambaran legenda seperti Arjuna, Jaka Tarub, dan Ramayana.

Ia melukis dengan kecenderungan visual yang berbeda yang dapat dikenali untuk mengeksplorasi serta mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa. Ia sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri, dan mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran umum.

Pameran istimewa ini diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia dengan inisiasi dari Ms. Inge-Marie Holst dan Mr. Hans Peter Holst yang melakukan penelitian tentang Otto Djaya. Perhelatan yang menjadi peringatan 100 tahun kelahiran Otto Djaya ini digelar pada 1 Oktober hingga 9 Oktober 2016 (tutup sementara pada 2 Oktober 2016, Tahun Baru Hijriyah 1428 H), di Gedung A Galeri Nasional Indonesia.

I-Now-1